Content Writing VS Copywriting, Serupa Tapi tak Sama

Tak perlu kita elakkan lagi jika content writing dan copywriting cenderung sangat sulit untuk kita bedakan. Bagi orang awam, kedua istilah tersebut nampak seperti anak kembar yang serupa namun tak sama.

Kekeliruan ini pun dapat  berpengaruh besar terhadap aktivitas ngiklan kamu di internet. Pasalnya, keduanya memiliki tujuan yang berbeda jika ditilik dari sisi marketing.

Secara singkatnya, content writing dirancang utnuk mendidik atau menghibur para pembaca, sementara copywriting dirancang untuk membujuk para pembaca agar mau melakukan aksi yang kita inginkan, misalnya closing dan menghasilkan pembelian.

Jika content writing sebagian besar ditulis di blog dan website tertentu, lain lagi dengan copywriting yang seringkali tersebar di platform iklan, termasuk web itu sendiri yang menyertakan landing page di dalamnya.

Selain itu, ada pula perbedaan lain yang nampak mencolok, bahkan bayi pun bisa mengenalinya dengan mudah.

Adapun perbedaan dari content writing vs copywriting “selain faktor tujuan” ini diantaranya adalah sebagai berikut:

Panjang Konten atau Artikel

Content writing biasanya memiliki panjang yang tak beraturan, antara 300 kata hingga berlembar-lembar sampai menghasilkan sebuah buku.

Sementara Copywriting hanya menitikberatkan pada tujuan dan jenisnya. Misalnya landing page yang dapat memuat hingga ribuan kata, atau Instagram yang hanya satu kalimat saja. Bukan malas, akan tetapi lebih ke penyesuaian platform iklan yang disediakan.

Respon Emosi

Bukan marah-marah ya! Arti emosi ini mencakup keseluruhan, dimulai dari rasa sedih, senang, empati, dan lain sebagainya.

Content writing tak perlu melibatkan emosi – sekalipun beberapa artikel ada yang menyertakannya.

Namun bagi copywriting, emosi ini begitu wajib hukumnya. Ini karena menurut penelitian yang dilakukan oleh prof. Gerald Zaltman dari Universitas Harvard mengatakan bahwa 9 dari 10 pembelian didorong oleh emosi saat membaca copywriting kita.

Gaya Penulisan

Gaya penulisan untuk content writing seringkali senada dengan para penulisnya. Makanya tingkat kesulitannya pun lebih rendah daripada copywriting.

Ini karena seorang copywriter harus mampu menulis berbagai macam gaya tulisan tergantung dari keinginan klien.

Gaya penulisan ini nantinya akan sangat terkait erat dengan respon emosi yang telah disebutkan di atas.